SIFAT SIFAT WAJIB BAGI ALLAH
1. Wujud , “اَلْوُجُـوْدُ “
Artinya “ada”. Maksudnya , Zat Allah Ta’ala itu ada dan mustahil apabila mempunyai sifat ‘adam ( tidak ada ). Dalilnya :
a. Dalil naqli :
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. As-Sajadah : 4
اللهُ الَّذِى خَـلَقَ السَّـمـوَاتِ وَالأَرْضَ وَمَـا بَـيْـنَـهُـمَـا
Artinya : “ Allah Ta’ala yang menciptakan sekalian langit dan bumi, serta apa saja yang ada diantara keduanya “.
b. Dalil ‘aqli :
Keberadaan alam semesta ini, dapat dilihat , diraba dan dialami secara
nyata dan pasti. Tentu akal mengakui, menetapkan dan menerima bahwa ,
itu semua tidak mungkin ada, kalau tidak ada yang menciptakannya. Tidak
mungkin ada mobil, rumah dan kue , jika tidak ada yang membuatnya.
Demikian juga manusia, tetumbuhan, gunung dan alam seisinya tidak
mungkin ada, jika tidak ada penciptanya. Pencipta tersebut adalah Allah
Ta’ala. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa
zikir (ingat) kepada Allah Ta’ala pada setiap yang maujud (yang ada).
2. Qidam “ اَلْقِـدَمُ “
Artinya “dahulu”. Maksudnya, adanya Zat Allah Ta’ala
tanpa didahului oleh ketiadaan. Mustahil Allah Ta’ala bersifat baharu,
artinya didahului oleh ketiadaan. Dengan kata lain, Wujud Allah Ta’ala
tidak ada permulaannya. Dalilnya
a. Dalil naqli.
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al-hadid : 3.
هُـوَ الأَوَّلُ وَالآخِـرُ وَالظَّـاهِـرُ وَالْبـَاطِـنُ
Artinya : “Dia {Allah }yang awal {tiada permulaan bagi-Nya}. Yang akhir {tiada kesudahan bagiNya}. Yang Zahir dan yang batin”.
b. Dalil ‘aqli
Alam semesta beserta isinya, ruang dan waktu sebagai mana yang telah
kita ketahui adalah, ciptaan Allah Ta’ala. Maka menurut akal, sang
pencipta {Allah Ta’ala} telah lebih dahulu ada {qidam } sebelum ada
ciptaan-NYA {makhluk }. Sangat mustahil jika ciptaan dahulu ada, dari
penciptanya. Maka patut bagi setiap mu’min untuk mengi’tiqadkan bahwa
senantiasa bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah menjadikannya
menjadi mu’min muslim dengan taufiqNya.
3. Baqâ, “ اَلْبَـقَـاءُ “
Artinya “kekal”. Maksudnya adalah, keberadaan Zat
Allah Ta’ala {Wujud-nya} kekal, tanpa ada perubahan, fana {binasa} atau
berakhir. Mustahil Allah Ta’ala binasa, berubah, habis atau lenyap.
Dengan kata lain, wujud Zat Allah Ta’ala tanpa diakhiri oleh kesudahan
atau waktu. Dalilnya:
a. Dalil naqli.
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Ar-Rahman.
كُـلُّ مَـنْ عَـلَـيْـهَـا فَـانٍ. وَيَـبْـقَـى وَجْـهُ رَبِّـكَ ذُوالْجَـلاَلِ وَاُلإِكْـرَامِ
Artinya: “segala yang ada diatas bumi ini akan fana
{binasa} dan kekallah Zat Tuhanmu {Muhammad} , yang mempunyai kebesaran
dan kemuliaan”.
b. Dalil ‘aqli
Semua makhluk mengalami perubahan, binasa, fana dan
berakhir. Menurut akal, pasti ada yang mengakhirinya atau yang
membinasakannya. Oleh karena itu, akal menemukan bahwa : ada Zat yang
kekal dan yang berkuasa untuk merubah dan membinasakan, Zat tersebut
adalah Zat Allah Ta’ala yang maha kekal, mustahil fana , lenyap atau
binasa. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa
ingat bahwasannya ia akan binasa (mati) supaya ia bertaubat dan banyak
beristighfar
4. Mukhalafatuhu li al-hawadis,
“مُـخَـالَـفَـتُـهُ لِلْـحَـوَادِثِ “
Artinya “berbeda wujud Zat Allah Ta’ala dengan sekalian yang
baharu”, mustahil menyerupai atau menyamai. Maksudnya adalah, wujud
Allah Ta’ala tidak menyerupai apapun dan tidaن ada apapun yang
menyerupai Allah Ta’ala dalam: Zat, sifat dan fi’il- Nya. Dalilnya:
a. Dalil naqli.
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.Asy-Syũro : 11.
لَـيْسَ كَـمِثْـلِهِ شَـيْءٌ وَهُـوَ السَّـمِـيْـعُ الْعَـلِـيْـمُ
Artinya : “ Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Allah Ta’ala. Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui “.
b. Dalil aqli
Apabila Allah Ta’ala menyerupai atau serupa dengan sesuatu pada ;Zat,
sifat atau fi’il–Nya , maka Allah Ta’ala tentu serupa dengan sesuatu
itu. Sehingga pencipta dan ciptaan menjadi sama, padahal yang demikian
sangat mustahil dan tidak masuk akal. Oleh karena itu, Allah Ta’ala sang
pencipta alam ini, pasti tidak serupa dengan segala yang baharu atau
dengan kata lain, tidak sama antara khalik dan makhluk. Maka patut bagi
setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa memperbanyak tasbih
kepada Allah Ta’ala
5. Qiyâmuhu binafsihi , “ قِـيَـامُـهُ بِـنَـفْـسِـهِ “
Artinya “ berdiri Allah Ta’ala dengan sendiriNya “.
Mustahil minta tolong kepada sesuatu lain-Nya. Maksudnya adalah ; wujud
Allah Ta’ala tidak membutuhkan kepada apapun dan kepada siapapun, selain
Zat-Nya sendiri. Tidak kepada tempat, ruang dan pertolongan yang lain.
Dalilnya :
a. Dalil naqli .
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al-Ankabut : 106.
إِنَّ اللهَ لَـغَـنِىٌّ عَـنِ الْعَـالَـمِـيْـنَ
Artinya : “ Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Kaya dari
sekalian alam”. Maksudnya adalah, Allah Ta’ala tidak membutuhkan suatu
apapun dari alam semesta ini.
b. Dalil ‘aqli
Apabila Allah Ta’ala tidak berdiri dengan sendiriNya,
berarti membutuhkan pertolongan dari selain diri-Nya, maka IA lemah,
tidak sempurna dan tidak Mahakaya, sama seperti makhluk. Bila Allah sama
dengan makhluk ciptaan-Nya, berarti IA juga makhluk. Padahal yang
demikian itu mustahil, sebab IA bersifat qidâm dan baqâ. Maka patut bagi
setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa berhajat dan faqir
kepada Allah Ta’ala
6. Wahdâniyah, “ اَلْوَحْـدَانِـيَّـةُ “
Artinya “ Esa Zat Allah Ta’ala “ dan mustahil berbilang .
Maksudnya adalah, Allah Ta’ala Esa ; Zat-Nya, Sifat-Nya dan Fi’il-Nya.
Dalilnya :
a. Dalil naqli.
Firman Allah Ta’ala Q.S.. Al-Ikhlas : 1
قُـلْ هُـوَ اللهُ اَحـَــدٌ
Artinya : “ Katakan ya Muhammad ! Dialah Allah Yang Maha Esa “.
b. Dalil ‘aqli.
Andai kata Tuhan itu berbilang atau lebih dari satu , maka
akan timbul perselisihan diantara mereka atau berbeda faham, tentu akan
binasa alam semesta ini. Sebab yang satu ingin begini dan yang satu lagi
hendak begini pula. Oleh karena itu , mustahil pada akal bahwa , Tuhan
yang mengatur alam ini tidak Esa. Maka patut bagi setiap mu’min
mengi’tiqadkan bahwa ia melihat dengan mata bathinnya kepada fi’il Allah
Ta’ala dalam setiap kejadian bahwa, itu tertib dari Allah Ta’ala
7. Hayât , “ اَلْحَـيَـاةُ “
Artinya “ Hidup “ . Maksudnya adalah , sifat hidup
terdapat pada Zat Allah Ta’ala atau Zat Allah Ta’ala sifat-Nya adalah
hidup, maka mustahil bersifat mati. Dalilnya :
a. Dalil naqli.
Firman Allah Ta’ala Q.S.. Al-Baqarah : 255
اللهُ لاَ إِلـهَ إِلاَّ هُـوَ الْحَـىُّ الْقَـيُّـوْمُ
Artinya : “ Allah Ta’ala tiada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri “.
b. Dalil ‘aqli
Kalau saja misalnya Allah Ta’ala itu merupakan Zat yang
mati, niscaya alam ini akan berantakan, sebab tidak ada yang
mengendalikan. Sedangkan sebuah mobil yang meluncur dengan supir
mengantuk akan terjun ke dalam jurang, apa lagi jika supirnya mati.
Demikian juga dengan alam yang luas ini ; matahari,
bulan, bintang-bintang dan planet-planet yang beredar di ruang angkasa,
termasuk manusia, akan hancur, jika yang mengaturnya mengantuk, apa lagi
mati. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia menyerahkan
hidupnya kepada Allah Ta’ala yang Maha Hidup
8. ‘Ilmu , “ اَلْعِـلْـمُ “
Artinya “ tahu “ atau mengetahui . Maksudnya adalah ,Zat Allah Ta’ala
mempunyai sifat ‘ilmu atau Zat Allah Ta’ala bersifat Maha Tahu, maka
mustahil Allah Ta’ala bersifat jâhil atau tidak tahu. Dalilnya :
a. Dalil naqli.
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al Baqarah : 29
وَهُـوَ بِـكُـلِّ شَـيْءٍ عَـلِيْـمٌ
Artinya :“ Dan Dia, (Allah Ta’ala) itu Maha Mengetahui segala sesuatu “.
b. Dalil ‘aqli
Allah Ta’ala Maha Tahu segala sesuatu, Maha Tahu terhadap segala yang
telah diciptakan dan yang akan diciptakan, mustahil Allah Ta’ala tidak
mengetahui atau bodoh terhadap hal tersebut, sebab kalau Allah Ta’ala
bersifat bodoh, tidak tahu dan tidak berilmu, maka IA tidak dapat
menguasai dan tidak dapat mengatur alam ini. Apabila alam semesta
beserta isinya diperhatikan, maka mustahil menurut akal bahwa,
penciptanya adalah, Zat yang tidak berilmu atau bodoh. Padahal manusia
sebagi ciptaan-Nya saja memiliki ilmu , bahkan ada yang sangat berilmu,
apa lagi IA. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia
sangat takut untuk berbuat maksiat, sebab Allah Ta’ala Maha Tahu segala
hal dan perbuatannya.
9. Qudrat , “ اَلْقُـــدْرَةُ “
Artinya “kuasa“ dan mustahil lemah. Maksudnya adalah ,
Allah Ta’ala mempunyai sifat qudrat yang berdiri pada Zat-Nya atau
qudrat itu memang sifat bagi Zat Allah Ta’ala . Dalilnya :
a. Dalil naqli
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al – Baqarah : 30
إِنَّ اللهَ عَـلَى كُـلِّ شَـيْءٍ قَـدِيْـرٌ
Artinya : “ Sesungguhnya Allah Ta’ala atas segala sesuatu Maha Berkuasa ”.
b. Dalil ‘aqli
Alam semesta dan isinya adalah, ciptaan Allah Ta’ala ,
sebagaimana keterangan yang lalu. Maka sesungguhnya mustahil jika IA
sendiri tidak menguasainya. Sebab andaikata Tuhan lemah tidak berkuasa,
tentu tidak akan ada makhluk-Nya atau IA bukan Tuhan yang Maha berkuasa.
Oleh karena itu, mustahil menurut akal , jika Allah Ta’ala lemah dan
wajib pada akal bahwa, Allah Ta’ala Maha Berkuasa untuk menciptakan
sesuatu atau meniadakannya. Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan
bahwa ia senantiasa tawaddlu’ tidak takabbur atau sombong bahkan ia
sangat takut kepada Allah Ta’ala yang Maha Kuasa
10. Irâdat , “ اَلإِرَادَةُ “
Artinya “ berkehendak “ dan mustahil dipaksa, Maksudnya
adalah, dalam menentukan sesuatu atau memilih sesuatu , Allah Ta’ala
berbuat menurut sekehendak-Nya . Dalilnya :
a. Dalil naqli
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al-Buruj : 16
فَـعَّـالٌ لِـمَـا يُـرِيْـدُ
Artinya : “(Allah Ta’ala itu) Maha berbuat terhadap apa yang dikehendaki-Nya”.
b. Dalil ‘aqli
Dalam menciptakan sesuatu , Allah Ta’ala tetap menurut kehendak-Nya.
Demikian juga dalam menentukan atau memilih. Mustahil Allah Ta’ala
diatur atau dipaksa oleh kekuatan yang lain. Kalau Allah Ta’ala dapat
dipaksa atau diatur oleh kekuatan yang lain, maka Ia lemah dan berarti
Ia bukan tuhan. Oleh karena itu patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan
bahwa ia senantiasa bersyukur atas ni’mat Allah dan sabar atas ujianNya
11. Sama’ , “ اَلسَّـمْـعُ “
Artinya “ mendengar “. Mustahil Allah Ta’ala bersifat
tuli . Maksudnya adalah , Zat Allah Ta’ala bersifat sama’ artinya ,
mendengar segala sesuatu atau sifat mendengar adalah , salah satu sifat
yang tetap ada pada Zat Allah Ta’ala . Dalilnya :
a. Dalil naqli
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. An-Nisa’ : 184
وَكَـانَ اللهُ سَـمِـيْعًـا عَـلِيْـمًـا
Artinya :“Dan adalah Allah Ta’ala itu Maha Mendengar dan Maha Mengetahui“.
b. Dalil ‘aqli
Allah Ta’ala mempunyai sama’, yaitu pendengaran dan mustahil
tuli, sebab tuli adalah , sifat kekurangan. Allah Ta’ala mustahil
bersifat kekurangan, karena sifat kekurangan itu adalah, sifat bagi zat
baharu. Padahal kita yakin sepenuhnya bahwa, Allah Ta’ala itu bukan
baharu , sebaliknya Allah Ta’ala adalah, pencipta segala yang baharu.
Maka mustahil IA tuli , seperti yang baharu itu. Maka patut bagi setiap
mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia takut dan waspada dalam berkata-kata,
karena Allah Ta’ala Maha Mendengar segala perkataan yang baik maupun
yang buruk
12. Bashar , “ اَلْبَـصَـرُ “
Artinya “ penglihatan “ , mustahil buta atau tidak dapat
melihat. Maksudnya adalah , Zat Allah Ta’ala bersifat bashar atau
mempunyai penglihatan dan sifat ini adalah , salah satu sifat yang
berdiri pada Zat-Nya. Dalilnya :
a. Dalil naqli
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. Al-Hujarârat : 18.
وَاللهُ بَـصِيْـرٌ بِـمَـا تَـعْـمَـلُوْنَ
Artinya : “ Dan Allah Ta’ala maha melihat segala apa saja yang kamu kerjakan ”.
b. Dalil ‘aqli
Semua gerak gerik dari segala pekerjaan manusia , dilihat
oleh Allah Ta’ala, mustahil IA buta, sebab buta adalah, sifat
kekurangan. Padahal sifat kekurangan adalah, sifat makhluk-Nya . Apabila
Tuhan juga buta, maka IA adalah makhluk , padahal mustahil tuhan
menjadi makhluk , sebagai mana yang diterangkan pada awal kajian ini.
Maka patut bagi setiap mu’min mengi’tiqadkan bahwa ia tidak akan berbuat
dosa dan maksiat, sebab Allah Ta’ala Maha Melihat segala perbuatannya.
13. Kalâm , “ اَلْكَـلاَمُ “
Artinya “ berkata-kata “ dan mustahil Allah Ta’ala bisu.
Maksudnya adalah , Allah Ta’ala mempunyai sifat kalâm atau mempunyai
tutur kata. Dalilnya :
a. Dalil naqli
Firman Allah Ta’ala dalam Q.S.. An-Nisa’ : 164
وَكَـلَّمَ اللهُ مُـوْسَى تَـكْلِيْـمًـا
Artinya : “ Dan telah berkata-kata Allah Ta’ala dengan (Nabi Musa) sebenar – benar perkataan “
b. Dalil ‘aqli
Kalau saja Allah Ta’ala bisu , tentu tidak dapat memerintah dengan
baik. Sedangkan sifat bisu adalah, sifat kekurangan. Jika IA bisu, maka
Bagaimana mungkin dapat berfirman kepada para Rasul-Nya. Oleh sebab itu ,
sifat kalâm adalah, sifat kesempurnaan Allah Ta’ala yang wajib lagi
qadîm yang berdiri pada Zat-Nya. Maka patut bagi setiap mu’min
mengi’tiqadkan bahwa ia senantiasa memperbanyak zikir dengan harapan
agar ia juga disebut Allah Ta’ala sebagai hambaNya.
14. Kaunuhu Haiyan, “ كَـوْنُـهُ حَـيََّـا “
Artinya “Zat Allah Ta’ala tetap dalam keadaan Maha
Hidup“, mustahil Allah Ta’ala dalam keadaan mati. Sebab IA mempunyai
sifat hayât yang telah ada dan berdiri pada Zat-Nya, maka Zat tersebut
haiyun. Dalilnya sama dengan dalil sifat hayât.
15. Kaunuhu ‘Âliman, “ كَـوْنُـهُ عَـالِـمًـا “
Artinya “Zat Allah Ta’ala tetap dalam keadaan Maha
Mengetahui.” Maksudnya adalah, mustahil jahil (dalam keadaan tidak
mengetahui). Oleh karena, IA bersifat tahu dan dalam keadaan mengetahui.
Mustahil tidak tahu, apalagi dalam keadaan tidak mengetahui. Dalilnya
sama dengan dalil sifat ‘ilmu
16. Kaunuhu Qâdiran. “ كَـوْنُـهُ قَـادِرًا “
Artinya “Zat Allah Ta’ala tetap dalam keadaan Maha
Kuasa,“ maka mustahil dalam keadaan lemah, karena IA mempunyai sifat
qudrat. Dalilnya sama dengan dalil sifat qudrat.
17. Kaunuhu Murîdan, “ كَـوْنُـهُ مُـرِيْـدًا “
Artinya “ Zat Allah Ta’ala tetap dalam keadaan Maha
Menghendaki,” atau Maha Menentukan, maka mustahil dalam keadaan terpaksa
atau tidak berkehendak, karena IA mempunyai sifat irâdat. Dalilnya sama
dengan dalil sifat irâdat.
18. Kaunuhu Sami’an, “ كَـوْنَـهُ سَـمِـيْـعًا “
Artinya “ Zat Allah Ta’ala senantiasa dalam keadaan Maha
Mendengar,” maka mustahil dalam keadaan tuli atau tidak mendengar,
karena Ia mempunyai sifat sama’ yang tetap ada pada zat-Nya. Dalilnya
sama dengan dalil sifat sama’
19 Kaunuhu Basîran, “ كَـوْنُـهُ بَصِيْـرًا “
Artinya “ Zat Allah Ta’ala tetap dalam keadaan Maha
Melihat, “ maka mustahil dalam keadaan buta ataupun tidak melihat,
karena Ia mempunyai sifat bashar yang tetap berdiri pada Zat-Nya .
Dalilnya sama dengan sifat bashar.
20. Kaunuhu Mutakalliman, “ كَـوْنُـهُ مُـتَـكَلِّمًـا “
Artinya “ Zat Allah Ta’ala tetap dalam keadaan Maha Bertutur Kata ,”
maka mustahil Allah Ta’ala dalam keadaan bersifat bisu atau tidak dapat
bertutur kata, karena IA mempunyai sifat kalâm. Dalilnya sama dengan
sifat kalâm.
Demikianlah, dua puluh sifat kamãlãt Allah Ta’ala serta
mustahilnya, yang telah didukung oleh dalil-dalil naqli dan ‘aqli,
secara rinci dan jelas.
SIFAT MUSTAHIL BAGI ALLAH
1.’Adam artinya tidak ada
Adam merupakan kebalikan dari sifat wajib wujud (ada). Adanya alam
semesta dan semua isinya membuktikan adanya Allah sebagai zat yang maha
Pencipta segala sesuatu. Mustahil kalau Allah Tidak ada, maka siapa yang
menciptakan dan mengatur alam semesta ini? Secara akal tidak mungkin
alam semesta diciptakan oleh manusia atau makhluk lainnya. Allah
berfirman, yang artinya: “Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu
sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu
bersyukur. Dan Dialah yang menciptakan serta mengembang biakkan kamu di
bumi ini dan kepada-Nya lah kamu akan dihimpunkan. Dan Dialah yang
menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam
dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” [Q.S. al-Mu'minun 78-80]
2. Hudutz artinya baru atau ada permulaannya
Hudutz merupakan kebalikan dari sifat wajib qidam (dahulu). Mustahil
Allah bersifat baru, karena sesuatuyang baru pasti ada yang menciptakan.
Padahal Allah SWT adalah Sang Khalik pencipta semua
makhluk-makhluk-Nya, tidak mungkin terjadi bahwa yang menciptakan itu
akan didahului oleh apa-apa yang diciptakan Allah berfirman, yang
artinya: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin;
dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Q.S. al-Hadid 3]
3. Fana’ artinya musnah/binasa
Sifat fana’ merupakan kebalikan dari sifat wajib baqa’ (kekal).
Mustahil Allah SWT itu rusak atau binasa. Apabila Allah SWT rusak atau
binasa, maka sifat-sifat Allah itu sama dengan sifat makhluk-makhluk-Nya
yang rusak dan binasa. Allah berfirman, yang artinya: Semua yang ada di
bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai
kebesaran dan kemuliaan. [Q.S. ar-Rahman 26-27] Dunia ini bersifat fana’
(rusak) sebagaimana gambaran sebatang pohon yang tumbuh berkembang dan
akhirnya mati *
4. Mumaatzalatu lil Khawaaditzi
artinya menyerupai sesuatu yang baru atau yang bermulaan* Sifat
mumaatzalatu lil Khawaaditzi merupakan kebalikan dari sifat mukhaalafatu
lil hawaaditzi (berbeda dengan segala makhluk). Mustahil Allah SWT sama
dengan makhluk-Nya. Jika Allah SWT menyamai salah satu makhluk-Nya,
tentulah Allah memiliki sifat kelemahan dan tidak kuasa untuk
menciptakan alam semesta beserta isinya. Allah berfirman, yang artinya:
“dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” [Q.S. al-Ikhlas 4] *
5. Ikhtiyaaju Lighoirihi
artinya membutuhkan sesuatu kepada yang lain* Ikhtiyaaju Lighoirihi
merupakan kebalikan dari sifat qiyaamuhu binafsihi (berdiri sendiri).
Mustahil Allah SWT membutuhkan kepada salah satu makhluk-Nya karena
Allah SWT Maha Kaya dan seluruh alam semesta ini adalah milik-Nya. Allah
berfirman, yang artinya: “… Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan
kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya)…” [Q.S. Muhammad 38] *
6. Ta’addud
artinya berbilang atau lebih dari satu. Ta’addud merupakan kebalikan
dari sifat wajib wahdaniyah (esa). Allah itu Maha Esa dalam Zat-Nya,
sifat-sifat dan juga af’al-Nya. Maka, mustahil bahwa Allah itu lebih
dari satu karena akan menimbulkan perselisihan dan kehancuran. Allah
berfirman, yang artinya: Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang
mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga”, padahal
sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang
Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti
orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.
[Q.S. al-Maa'idah 73] *
7. al-’Ajzu artinya lemah
‘Ajzun merupakan kebalikan dari sifat wajib qudrat (kuasa). Adanya alam
semesta ini merupakan bukti bahwa Allah SWT kuasa terhadap segala
sesuatu dan tak ada yang dapat melemahkan Allah. Allah berfirman, yang
artinya: “…Dan tiada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah baik di
langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Kuasa.” [Q.S. Fathir 44] *
8. al-Karaahah artinya terpaksa
Karaahah merupakan kebalikan dari sifat wajib iradat (berkehendak).
Allah SWT itu Maha Berkehendak dan tidak ada sesuatau pun yang mampu
menghalang-halangi apa saja yang sudah dikehendaki Allah. Mustahil Allah
SWT dipaksa, diperintah, atau diancam agar mau menjadikan sesuatu atau
tidak menjadikan sesuatu. Allah berfirman, yang artinya: “…Sesungguhnya
Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” [Q.S. Huud:
107] *
9. Jahlun artinya bodoh
Jahlun merupakan keballikan dari sifat wajib ilmu (mengetahui). Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu baik apa yang terjadi, yang akan terjadi
maupun yang sudah terjadi, bahkan Allah juga tahu apa-apa yang
dirahasiakan makhluk-Nya. Maka mustahil kalau Allah SWT itu memiliki
sifat tidak tahu atau bodoh. Allah berfirman, yang artinya:
“…Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [Q.S.
al-Mujaadilah 7] *
10. Mautun artinya mati
Mautun merupakan kebalikan dari sifat wajib hayat (hidup). Allah SWT
adalah Maha Hidup, tidak ada permulaan atau pun penghabisan, dan tidak
mengalami perubahan sama sekali bahkan tidak mengantuk dan tidak pula
tidur. Allah berfirman, yang artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus
mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur…”[Q.S.
al-Baqarah 255] *
11. Shomamun artinya tuli
Shomamun merupakan kebalikan dari sifat wajib sama’ (mendengar)
Mustahil Allah SWT bersifat shomamun atau tuli. Seandainya Allah SWT itu
tuli pastilah mempunyai sifat kekurangan, cela dan noda. Allah SWT
adalah Maha Sempurna dan tidak memiliki kekuarangan sedikit pun. Allah
berfirman, yang artinya: “…Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
[Q.S. al-Baqarah 256] *
12. ‘Umyun artinya buta
‘Umyun merupakan kebalikan dari sifat wajib bashor (melihat). Allah SWT
Maha Melihat segala sesuatunya dan tidak ada satu pun benda yang
terluput dari penglihatan-Nya meskipun bersembunyi di lubang semut pun
Allah akan melihatnya. Allah berfirman, yang artinya: “Dia mengetahui
(pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati …
Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
[Q.S. al-Mu'min 19-20] *
13. Bukmun artinya bisu
Bukmun merupakan kebalikan dari sifat wajib kalam (berbicara). Mustahil
Allah SWT bersifat bisu. Seandainya Allah bersifat bisu bagaimana
mungkin para Nabi dapat menerima wahyu. Allah berfirman, yang artinya:
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.
Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan
sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat…”[Q.S. al-Baqarah 253]
Adapun tujuh sifat mustahil bagi Allah SWT berikut merupakan penguat
dari tujuh sifat mustahil sebelumnya (sifat ma’nawiyah) *
14. ‘Aajizan artinya Maha Lemah
15. Kaarihan artinya Maha Terpaksa
16. Jaahilan artinya Maha Bodoh
17. Mayyitan artihnya Maha Mati
18. Asamma artinya Maha Tuli
19. A’maa artinya Maha Buta
20. Abkama artinya Maha Bisu